Sunday, May 26, 2013

Lets do it!

      Pada 3 minggu terakhir ini, saya praktikum wawancara dalam 3 setting. Pertama itu pratikum Psikologi Industri dan Organisasi. Pratikum pertama kalo tidak salah (berarti bener..) jatuh pada hari Senin (06/05/13). Nahh,, Pas hari minggunya tuh yaa, sebelum hari Senin, stresnya minta ampun. Kalo otak bisa protes, dia bakal protes kali yaa, "Nggak bosen apa mikirin buat besok! Tugas noh kerjain". hahaha.. mungkin kalo bisa ditebak, kurang lebih begitulah bunyinya protesan otak saya ini. 

      Keesokan harinya,,
     Setelah menunggu beberapa menit untuk mengantri sembako jatah pratikum ke sebuah ruangan di kampus yang pada hari itu juga adalah pertama kalinya saya masuk ke ruangan itu, nama kelompok saya pun dipanggil juga. Kebetulan pertama kali kelompok kami dapat jatah menjadi "OBSERVER". Itu di capslock gitu tulisannya ada alasannya loh, alasannya itu karena saya merasa beruntung. Dengan menjadi observer, perasaan tegang langsung runtuh seketika. huh! Nafas terasa plooonnggg!! 

     Hokinya lagi, orang yang saya obervasi pertama kali adalah teman saya yang sangat bagus sekali saat memerankan interviewer. Begitu mengkhayati..  Jadi pada hari pertama itu saya seharusnya berterima kasih pada teman saya tersebut, begitu menginspirasi.. :D (Urutan perannya : jadi observer, klien, dan interviewer).

     Seminggu kemudian...
     Tibalah pada pratikum wawancara setting Psikologi Pendidikan. It's my favorite! Pada minggu kedua ini, rasanya tidak begitu terlalu tegang. Setidaknya tidak sampai membuat otak saya protes seperti minggu pertama. :D Pratikum pendidikan ini, saya lebih banyak membayangkan guru Bimbingan Konseling (BK) saya sewaktu SMA. Hmmm,, Nggak sia-sia juga dulu suka nongkrong di ruang BK. :p Pada pratikum Pendidikan ini, jatah pertama kelompok saya adalah menjadi klien. (Urutan perannya : jadi klien, interviewer. dan observer).

     Dua Minggu kemudian,,
     Minggu ketiga ini adalah pratikum wawancara yang terakhir. (Huh!! Akhirnyaaa...!!). Begitu lah perasaan saya sewaktu pratikum ketiga dalam setting Psikologi Klinis ini. Hmm,, Sebenarnya pada saat pratikum Klinis ini, kelompok saya belum membuat pedoman pertanyaannya (soalnya kelompok saya ganti tema). Tapi entah mengapa, karena saya terlalu keenakan dengan 2 pratikum sebelumnya. Saya seakan jadi meremehkannya. Tapi untuk jaga-jaga, saya meminta nasehat pada salah satu dosen di kampus saya (sepertinya saya juga harus say to thanks pada beliau.. :). 

     Kena batunya deh!
     Pada pratikum minggu ketiga, kelompok saya pertama kali mendapat jatah menjadi interviewer. Jenggg.. jenggg... Saat prakteknya, nggak selancar pratikum 2 minggu sebelumnya. Psikolog Klinis sepertinya emang harus pintar-pintar yaa memainkan kata-kata dalam menghadapi kliennya.

     Intinya, daripada belajar teorinya melulu, penting juga loh kita praktekkin ilmu yang udah dipelajari. Karena prakteknya nggak segampang teorinya.. Teori mah asal nempel,, Ada soal, bisa jawab? Kita bisa dibilang udah lulus. Tapi kalo disuruh praktekkinnya? Belum tentu semudah menghafal teori :D
So, Just Lets do it!!  :D

Saturday, May 4, 2013

"Kamu mau gaji berapa?"

     Pada perkuliahan Teknik Wawancara minggu ini (29/04/13) menghadirkan seorang bintang tamu. Bintang tamu yang berkecimpung di bidang Psikologi Industri dan Organisasi ini, bekerja di sebuah perusahaan sebagai HR (kalau tidak salah). Sebenarnya agak bingung juga ingin menuliskan apa tentang materi minggu ini. Selain karena saya terlambat masuk kelas yang diakibatkan satu hal (pengakuan dosa, hiks hiks hiks), juga karena saya memang tidak terlalu meminati bidang ini. Namun karena cukup termotivasi untuk mendapatkan nilai tambahan (berusaha memaksimalkan usaha yang terbaik boleh dong, hehe), saya harus memutar otak saya lagi untuk mengingat materi apa saja yang saya dapatkan dari yang disampaikan oleh bintang tamunya.

     Dari yang saya dengar, apa yang disampaikan bintang tamu (sebut saja Mr. J) ini tidak jauh berbeda dengan apa yang sudah dipelajari di kelas sebelumnya. Namun pada kelas kemarin, ada satu topik yang menjawab rasa penasaran saya. Topik tersebut mengenai pertanyaan 'gaji' yang diinginkan. Sebelum saya mengenal lebih dalam tentang dunia Psikologi Industri dan Organisasi atau yang biasa disingkat PIO, saya sangat penasaran tentang hal tersebut. Saya pernah mendengar, bila ditanya tentang ingin dibayar berapa ketika wawancara, ada yang mengatakan lebih baik memberikan jawaban seperti "terserah bapak atau ibu saja". Jawaban ini agar terkesan bahwa calon pekerjanya tidak matre (yaa kalii hari gini gitu loh, kalo nggak matre mau makan apa? :D).

     Namun di sisi lain, ada yang bilang bila ditanya mengenai ingin gaji berapa, lebih baik menjawab standar gaji yang kita inginkan, "10 juta aja cukup pak/bu". Katanya, jawaban seperti ini akan memberikan kesan bahwa kita memiliki percaya diri. Sehingga sang interviewer akan memiliki pandangan positif mengenai performance kita saat bekerja nanti.

     Faktanya,  saat di kelas Mr. J memberikan jawaban yang menentang kedua jawaban yang terdapat di paragraf sebelumnya. Saya sangat setuju dengan jawaban Mr. J ini. Kenapa? Alasannya saat kita pasrah ingin digaji berapa aja hal tersebut justru harus dipertanyakan. Jangan-jangan interviewee cuma pengen bermanis-manis biar diterima (hahaha, tipe penjilat gitu kali yaa). Selain itu, kalau nanti beneran dibayar murah gimana? Makanya jangan deh pake cara ini hanya untuk terlihat "bagus" (mencegah penambahan pegawai yang demo :D).

     Alasan untuk jangan meminta gaji yang terlampau besar adalah mengenai pertanggung jawaban kinerja kita di masa depan. Malu dong kalau kita udah dengan pedenya minta gaji yang besar, ternyata kinerja kita kelas teri. Hahaha, jadi lebih baik jawabannya harus yang masuk akal juga lah (sesuai dengan kinerja kita).


     Dalam penerimaan atau nggaknya sih kayanya tidak dilihat dari jawaban mau digaji berapa yaa? Lebih dari itu, masih banyak pertimbangan-pertimbangan lain apakah kita diterima atau tidak. Contohnya dari hasil wawancara (jawaban interviewee saat diberikan pertanyaan mengenai STAR), dan hasil tes-tes psikologi. Kesimpulan yang saya tangkep sih, kalau kita memang memiliki skill yang perusahaan butuh dan memenuhi kriteria (setidaknya hampir) perusahaan, perusahaan juga pasti akan memberikan gaji yang layak. Tapi jangan lupa loh, setiap perusahaan memiliki standar masing-masing untuk masalah pemberian gaji pekerjanya.

     Cukup sekian hal-hal yang bisa saya share,, Walaupun tidak banyak, mudah-mudahan ada manfaatnya yaa untuk yang sudah bersedia baca blog saya yang masih banyak kekurangannya ini.