Sunday, March 31, 2013

Jujur itu penting :D

     Akhirnya tiba pada tugas membuat blog terakhir sebelum UTS. Pada Senin lalu (25/03), Dosen pengganti mata kuliah Teknik Wawancara menerangkan mengenai "laporan hasil wawancara". Pada tugas kali ini, saya hanya akan menerangkan sedikit yang bisa saya pahami (efek dari nggak bisa move on setelah kuis yang berlangsung di sesi awal kelas). 

 
diperoleh dari : http://belajarbahasa-bahasaindonesia.blogspot.com/2012_05_20_archive.html


     Saat mewawancarai, tujuannya bukan untuk sekedar "kepoo", tapi lebih pada ingin mengambil data yang cukup penting. Oleh karena itu, dalam wawancara tidak boleh asal. Selain ada beberapa yang harus diperhatikan dalam teknik pengambilan datanya, juga terdapat hal-hal yang perlu diperhatikan untuk laporan yang akan disampaikan. Berikut ada tiga hal yang akan dilaporkan setelah mendapatkan data: Hasil wawancara, Observasi subjek, dan Refleksi sebagai pewawancara.

     Pada hasil wanwancara yang harus diperhatikan adalah bahwa hasil wawancara merupakan rangkuman cerita subjek dengan urutan yang sistematis. Bukan berdasarkan cerita dari subjek. Mungkin bila yang tidak memperhatikan hal ini, akan membuat kesalahan saat membuat laporan hasil wawancara. Karena mungkin tanpa disadari saat menuliskan cerita dari subjek, susunan dalam penulisannya adalah urut dari yang subjek katakan. Maka dari itu, saat mendengarnya saya sudah memberikan ultimaltum pada diri saya untuk lebih berhati-hati.

     Untuk observasi subjek, dosen pengganti mengatakan bahwa pada saat menuliskan hasil observasi, jangan memasukkan data yang tidak penting. Misalnya, subjek adalah orang yang berkecukupan karena subjek memamakai jam tangan dengan brand guess. Informasi ini sedikit bertentangan dengan kelas metode observasi yang pernah saya ikuti. Di kelas metode observasi, mahasiswa diajarkan untuk observasi dengan detail. Hingga brand yang dipakai subjek bisa dideteksi. Pokoknya harus detai-sedetailnya deh (saking detailnya membuat beberapa mahasiswa mengeluh). Mungkin tujuannya adalah untuk membuat mahasiswa peka dengan apa yang dilihat dan didengar.

     Back to topic, pada saat menuliskan hasil observasi cukup menuliskan keterangan-keterangan yang relevan. Perlu diperhatikan hal-hal yang tidak normal dibandingkan dengan perkembangannya. Misalnya, usia 23 tahun namun memiliki tinggi badan 120cm. 

     Selanjutnya refleksi sebagai pewawancara. Pada refleksi ini mengajarkan pewawancara untuk pengembangan diri dan intropeksi diri. Menurut yang saya baca, hal ini berkaitan erat dengan materi-materi yang sudah dipelajari pada minggu-minggu sebelumnya.

     Sampai di sini, mungkin ada pembaca yang menyadari hubungan kejujuran dengan tiga hal yang akan dilaporkan saat laporan hasil wawancara. Kalo menurut saya yaaa, saat kita menuliskan hasil wawancara, observasi, dan refleksi ini menguji kejujuran kita sebagai pewawancara.

     Alasan yang pertama, bila kita memaksakan pandangan kita dan akhirnya mempengaruhi hasil wawancara tentunya akan berakibat confirmatory bias. Saat menerapkan kejujuran, mungkin akan membantu mengurangi subjektivitas  dalam menuliskan laporannya. Apa adanya saja, tidak perlu rekayasa. Terutama saat ada niat membenarkan kesalahan ketika menuliskan laporan. Contohnya saat tidak begitu paham dengan cerita yang subjek ceritakan, akhirnya kita memanipulasi ceritanya hingga urutannya menjadi sistematis. Padahal hal tersebut hanya ingin menyembunyikan kesalahan semata.

     Alasan kedua dalam menuliskan hasil observasi. Saya sempat berpikir, saat wawancara mungkin saja subjek akan berbuat hal-hal yang memalukan dirinya dan kita akan menuliskannya di laporan hasil observasi. Lalu bagaimana dengan hal-hal memalukan yang dilakukan subjek juga memalukan kita? Mungkin untuk menutupinya kita tidak akan menuliskannya. Oleh sebab itu, kejujuran akan membantu kita untuk bersikap profesional. 

     Alasan yang terakhir mengenai refleksi sebagai pewawancara. Untuk seorang pewawancara junior, mungkin akan ada saja seseorang yang membuat kesan positif dalam hasil refleksinya. Padahal belum tentu demikian. Oleh sebab itu, kejujuran di sini sangat diperlukan agar pewawancara bisa mengintropeksi diri yang tidak hanya untuk poin positifnya saja. Toh poin negatif mungkin akan membantu kita dalam menyadari kesalahan-kesalahan yang kita lakukan saat wawancara. Hal ini tentunya akan memberikan pengaruh besar dalam pengembangan diri.


     Berdasarkan hal tersebut, bagi saya jujur itu penting. Bukan hanya pada berhubungan dengan orang lain, namun juga untuk berhubungan dengan diri sendiri. Untuk kejujuran dalam konteks ini, saya masukkan ke dalam jujur dengan diri sendiri. Sebab jujur dalam konteks menuliskan hasil wawancara, observasi, dan refleksi sebagai pewawancara berkaitan erat dengan profesionalism seseorang.

     Jangan pernah remehkan kejujuran yaaa saat kita melakukan hal apapun itu,, :D Karena jujur itu penting, dan berani JUJUR itu HEBAT!! :)


diperoleh dari : http://orangjujurhebat.blogspot.com/2012/09/belajar-menjadi-orang-yang-jujur.html






 

No Title


     Hidup itu bukan sinetron! Yups, penggalan kalimat tersebut seperti membuat  lumpuh harapan. No happiness, no true love..

     Tapi seiring bertambah usia semua nampak jelas. Sebuah berlian tidak akan berkilau dan memiliki nilai jual yang tinggi bila ia tidak pernah ditempa sebelumnya. Dari coba hanya sebongkah berlian yang tidak karuan bentuknya. Memang mungkin sih tetap memiliki nilai harga jual, namun dia tidak memiliki nilai estetika. Melalui proses panjang yang mungkin bila ia bisa bicara, ia mungkin akan mengeluh. Namun nyatanya ia berhasil melaluinya dan ia memiliki nilai jual dan nilai estetika.

     Contohnya lagi sebuah batu yang dilirik pun tidak, namun saat batu tersebut menjadi sesuatu yang menakjubkan, akan banyak orang pun yang akan memberikan apresiasi padanya. Saat sebuah batu tersebut menjadi sesuatu yang indah seperti patung misalnya, tentu dia mengalami proses yang menyakitkan dulu. Di mana ia akan dibentuk dengan pahatan-pahatan dari benda yang tajam. Namun pada akhirnya ia akan menjadi sesuatu yang bernilai juga toh.

     Seperti itulah kehidupan, permasalahan entah memunculkan airmata, atau senyuman. Semua itu tergantung bagaimana menyikapinya. Di dalam sinetron, kita sudah mengetahui bagaimana akhir ceritanya. Saat itu entah sadar atau tidak, pikiran mulai bicara, "Hidup tidak semudah itu", "namanya juga film", dan sebagainya.

     Tapi sadarkah, respon tersebut mungkin karena keberadaan posisi masih terletak di prosesnya. Akan berbeda saat kesadaran mengetahui akhir dari cerita hidupnya.

Saturday, March 23, 2013

"Every People is Unique"




 Setelah niat terkumpul dengan cukup maksimal, akhirnya dapat merealisasikannya menjadi tekad untuk segera membuat tugas Minggu ke-sekian (lebih tepatnya lupa minggu ke berapa,, hehe) mengenai "Social History" atau riwayat sosial. Sejenis makhluk apa sih social history itu? Untuk lebih lengkapnya, silahkan dibaca keterangan lengkapnya di kalimat berikutnya,, :D (Jangan sungkan-sungkan lohh yaa kalau ingin membaca, soalnya sungkan aja suka loh baca blog saya :p)

     Pada saat di kelas Teknik Wawancara (18/03), saya membaca tema perkuliahan pada minggu ini. Saat membacanya, yang terbesit di benak terdalam saya adalah mengenai hubungan seseorang (klien) dengan lingkungannya secara umum saja. But, saat dosen saya menjelaskan apa-apa saja yang terkait riwayat sosial. Ternyata Social History lebih dari itu.

     Jadi, jenis seperti itulah makhluk yang bernama social history ini. Data yang didapat lebih detail, karena riwayat klien mencerita cerita mengenainya yang lebih dari seperangkat fakta saja. Karena setiap individu itu sangat kompleks. Nggak salah dong kalau saya memberikan judul blog saya "Every people is unique". Next....!

     Dalam membuat social history ini kita harus mengingat lagi, bahwa masalah yang dihadapi setiap individu  tidak hanya karena bawaan (nature), tapi juga karena faktor lingkungan nurture). Jadi jangan salahkan faktor genetik saja, karena lingkungan juga memberikan kontribusi pada masalah klien. Social History ini memiliki tujuan juga lohhh,, yaitu untuk memperoleh informasi yang cukup untuk konsep asal-usul kesulitan klien. So, apa aja sih konsep asal usul kesulitan klien? Area social history itu meliputi family history, education history, occupational training/job history, marital history, sexual history, medical history, psychiatric or pychotherapy history, dan legal history. Semoga enggak engos-engosan  yaa bacanya.. :) Di paragraf selanjutnya saya akan mencoba meringkas info-info intinya saja (Ini merupakan bentuk empati saya agar pembaca tidak bosan membacanya,, lohhh… hehe :P)



     Family history, mencakup pertanyaan mengenai di mana mereka (klien) lahir dan dibesarkan. Eittsss,, bisa aja loh klien tersebut lahir dan dibesarkan di kota yang berbeda. Jadi jangan remehkan dulu pertanyaan ini. Adapun cara yang efektif untuk mempermudah alur family history, yakni dengan GENOGRAM. Berikut contoh  dari Genogram :




     Next, Educational history. Klien membagi ingatan dan persepsi terhadap waktu saat di sekolah. Hal ini tidak hanya dapat membantu interviewer dalam menilai bagaimana klien menjalani proses pendidikan, tapi juga dalam proses sosialisasinya. Sebab, kurangnya hubungan mungkin mengindikasikan kegagalan untuk menguasai ketrampilan dasar sosialisasi. Nah lohh,,




     Occupational training/job history. Pantangan bagi interviewer adalah menanyakan pekerjaan klien, apalagi yang berstatus pengangguran. Sebab hal ini akan membuat klien tidak nyaman. Nggak maukan kalau tiba-tiba klien garuk-garuk meja atau lantai di ruangan kita?. Untuk mengganti pertanyaan mengenai apa pekerjaan klien, alternatifnya bisa menggunakan pertanyaan, “apa kesibukan klien saat ini” (cari aman, mendingan pake pertanyaan alternatif aja yaaa.. :D).




     Marital history. Hal ini bertujuan untuk mempelajari mengenai beberapa hubungan lain klien yang dianggap signifikan. Status pernikahan sendiri ada single (dalam bahasa gaulnya jomblo :p), sudah menikah, bercerai, dan janda atau duda. Dalam marital history terdapat hubungan interpersonal (apakah klien memiliki teman? Ini akan membantu klien membicarakan bagaimana hubungan kerjanya) dan recretional preferences (bagaimana klien bersenang-senang? Jawaban mereka akan mengindikasi ketidakmampuan bertoleransi secara spontan atau berprilaku “anak kecil”.




     Sexual history. Topik yang kebanyakan dianggap sensitif, oleh karena itu interviewer harus berhati-hati dalam memilih kalimat pertanyaan. Cakupan riwayat seksual meliputi preferensi seksual, praktek seksual, fungsi seksual, orientasitas seksual, orientasi seksual, penyakit seksual yang menular, dan kekerasan seksual. 



     Medical history meliputi rawat jalan, riwayat rawat inap, riwayat operasi, masalah kesehatan gigi dan mulut yang serius, medical check up terbaru, nama dan dosis obat-obatan yang dikonsumsi. 



     Psychiatric/psychotherapy history. Hal ini mencakup informasi mengenai psikiater atau psikoterapi yang pernah menangani klien sebelum kita (assyikkk,, aminin aja yaa.. :D)




     Legal history meliputi perilaku ilegal klien yang mungkin memiliki karakteristik patologis. Misalnya perilaku penyalahgunaan obat-obatan atau alkohol dan mengkonsumsi nikotin dan atau kafein. Lagi-lagi, sebagai interviewer yang kompeten, kita harus hati-hati dalam menggunakan pertanyaan. 


     Intinya adalah setiap orang memiliki situasi dan permasalahan yang berbeda-beda, karena pada dasarnya setiap orang itu unik.

Alhamdulillah, akhirnya tiba pada paragraf penutup… ( sambil bersorak dalam hati dengan gegap gempita :D).

     Kurang lebih seperti itulah cakupan dalam Social History. Banyak sihh, tapi informasi yang didapat cukup penting dan sangat bermanfaat lohh.. J Sekian blog  dari saya untuk tugas minggu ini (tentang Social History), panjang pendeknya tulisan saya mohon maaf dan mohon kritik dan sarannya yaa.. :D




Friday, March 15, 2013

"Learning by Doing!!"

 Tugas Teknik Wawancara, 'Keterampilan Dasar Wawancara'

     Nggak sangka deh, ini adalah tugas Teknik Wawancara saya yang ke-3,, :D Pada pembahasan kali ini saya ingin sedikit membagi berbagai pelajaran yang tidak hanya bersifat akademis. 


    Saya sengaja membuat tugas baru hari ini (15/03), sebab saya ingin mencoba mempraktekkan apa yang dikatakan dosen saya. Beliau saat itu (04/03) menerangkan mengenai "Keterampilan Dasar Wawancara". Ditengah penjelasan beliau menyinggung mengenai empati. Saya pikir, empati ini memegang peranan penting dalam membina rapport. Empati ini sendiri adalah dengan kita memberikan fokus selama wawancara berlangsung. Dalam hati saya berkata, "Masya Allah, orang nggak bisa diem kaya gue disuruh full fokus ke klien gue?". Saya pun mulai mulai berlatih dengan mencoba mendengarkan dan tidak membawa (menceritakan) mengenai diri saya saat ada seorang teman yang curhat pada saya.

 
     Dilanjut dengan topik di mana dosen saya mengatakan bahwa mulai dari sekarang cobalah untuk melatih impuls-impuls yang ada untuk berekspresi biasa saja. Maksudnya di sini jangan membuat guratan atau lekukan di dahi yang menandakan kita tercengang mendengar cerita dari klien.

     Jujur, saat saya mempraktekkan ini dengan mendengarkan teman-teman cerita. Saya tidak bisa menunjukkan ekpresi tercengang atau terkejut.. :( Sepertinya saya benar-benar orang yang sangat sensitif. Saat ada cerita yang sedih, ternyata menahan airmata sungguh sulit. Walaupun saya sudah berlatih untuk menahan ekspresi "stay cool", saya masih menangis. Entahlah, ini karena faktor sifat saya yang sensitif atau karena saya 'cengeng'? (Mudah-mudahan dosen saya bisa dan bersedia memberikan resep untuk hal ini :)).

     Materi yang sempat saya praktekkan adalah ketika kita wawancara atau menanyakan sesuatu pada klien, jangan melulu bertanya dengan menggunakan kata tanya "kenapa"? Sebab kebanyakan akan menjawab, "nggak tau, yaaa begitu" dsb (karena kapasitas memori harap maklum bila saya tidak dapat mengutip semua yang dikatakan dosen tercinta kita,, hehehe).
     Saat saya pulang bareng dengan senior saya saat SMA (sedikit curcol,, hehe), saya  menanyakan kepada dia yang saat itu memakai barang-barangnya (seperti kipas, jam, dan kunciran) yang serba berwarna kuning, "kenapa kakak suka kuning?", 

     Dia pun menjawab, "nggak tau, suka aja". Nahhh lohh, pas saya diam dan berpikir. Tiba-tiba saya ingat dengan yang dikatakan bu Henny pada hari Senin yang lalu.

     Saya pun menanyakan kembali pada kakak kelas saya, "Apa sih yang buat kakak suka kuning?",

     Dia menjawab, "soalnya warnanya cerah sih, jadi enak aja diliatnya"..

     Saya pun tertawa dalam hati, "ternyata teori yang dibilang sama bu Henny ada benernya juga yaa.."

     Demikian hal-hal yang saya peroleh dari kelas dan yang sudah saya lakukan ke dalam aktivitas saya. Saya pikir, apa yang dikatakan dosen saya mengenai mempraktekkan apa yang sudah dipelajari dari sekarang cukup dan bahkan sangat penting. Perkataan yang beliau ucapkan, sepertinya dapat meningkatkan kesadaran bagi kami para mahasiswa untuk mulai learning by doing. Sebab kita tidak hanya akan paham teorinya, tapi juga paham untuk dipraktekkan.  



     Btw, Thank You So Much Bu Henny atas inspirasinya.. Tetap bekerja dan belajar dengan hati. <3 Sekian dari saya, semoga tulisan saya bisa memberikan manfaat dan inspirasi bagi yang membaca.. :D


Monday, March 4, 2013

Tugas Blog Mata Kuliah Tekwan yg Ke-2

Harus Banyak Belajar lagi :)

     Pada hari ini (04/04/2013) mata kuliah Teknik Wawancara memberikan tugas untuk bercerita di Blog lagi. Untungnya belajar dari minggu lalu, pada saat mengunyah materi yang disampaikan kelompok sudah saya persiapkan mata saya untuk siaga selama tujuh hari tujuh malam. Sebenarnya adalah 215 menit lamanya atau sekitar 3 jam 35 menit. Karena minggu lalu mendengarkan materinya setengah nyawa maka dari itu hari ini  saya sengaja melekkin mata. Tapi walaupun kelasnya kelebihan 35 menit akan tetapi nggak kerasa loh. Entah efek niat gara-gara belajar dari kesalahan minggu lalu, atau karena emang materinya bidang saya banget! 
 

     
     Baiklah sebelum blog saya berubah menjadi sebuah novel layaknya sinetron "Cinta Fitri" hingga babak ke-enam dan sebelum pikun akut saya kambuh, saya akan memulai informasi-informasi atau pengetahuan baru yang saya dapatkan.
     Tiga kelompok yang pertama adalah kelompok yang mempresentasikan mengenai Psikologi Industri dan Organisasi (PIO). Sebenarnya agak males sih dengerinnya, maklumlah bukan minat saya untuk bidang PIO ini. Akan tetapi ada beberapa info yang baru saya tahu dari Ci Tas*** (baca : sensor) yang merupakan seorang asisten dosen dari seorang dosen yang luar biasa yaitu yang berinisial H untuk mata kuliah yang memiliki bobot 3 sks. Berikut info yang menurut saya cukup menarik  yang saya dapatkan:

     HRD juga ternyata bisa diancam oleh pelamarnya. Sebelum denger ini, saya belum pernah kepikiran kalau pelamar juga ada saja yang memiliki keberanian atau kecenderungan untuk mengancam sang interviewer. Mungkin ini salah satu sikap putus asa mereka yang takut tidak terpilih. Sungguh cerminan sikap yang negatif, akan tetapi kalau tidak bisa menangani perilaku yang ekstrim seperti ini bukan psikolog namanya. Karena itu, biasanya interviewer tidak langsung memberitahu kalau orang yang sedang di-interview ini tidak diterima. Biasanya, cara menolak halusnya dengan tidak memberi kabar lebih dari 2 minggu. strategi yang cukup beralasan dan cerdas sekali.
     HRD memiliki bakat "bajak membajak". Maksudnya adalah HRD memilliki strategi untuk menghasut  seseorang yang kompeten pada jabatan manager ke atas pada perusahaan lain dengan cara halus untuk berpindah kerja ke tempat HRD tersebut bekerja. Mudah-mudahan sistem ini bukan terinspirasi dari sistem politik. Walaupun hal ini tampak tidak etis, tapi hal ini etis dilakukan oleh PIO. 
     HRD menolak pelamar yang memiliki IPK di atas 3 koma sekian. Saat mendengar Asisten Dosen (Asdos) saya yang tercinta, sontak kelas menjadi gaduh. Teman saya yang IPK di atas 3 koma sekian mereka menjadi resah (khususnya yang mengincar pekerjaan bidang PIO). Sebaliknya saya sempat mendengar ada yang mengatakan, "YESS!! Untung IPK gue masih aman!". Parahnya lagi saya mendengar ada yang dengan polosnya mengatakan, "Masa gue harus turunin IPK gue gitu" hahaha,, dan saya sendiri, "Untung nggak minat PIO :D" hehehe..
 

     Sekian dari PIO, Selanjutnya tiga kelompok terakhir membahas mengenai Psikologi Pendidikan. Kelompok pertama yang menyajikan materi ini adalah kelompok saya loh. Berikut adalah foto saya dan teman-teman saat mau wawancarai guru Konseling dari salah satu SMA swasta di Jakarta.


    Sekarang mulai yuk ke topik Psikologi Pendidikan yang kelompok saya dan teman-teman lain yang sempat disampaikan. Namun, di sini saya hanya akan memberikan informasi yang menurut saya menarik dari Psikologi Pendidikan.

     Ternyata di konseling juga ada untuk Anak Berkebutuhan Khusus loh. Pernyataan ini merupakan kabar gembira buat saya yang emang berencana untuk melanjutkan S2 dengan mayor Klinis Anak dan minor Psikologi Pendidikan. Walaupun kerjanya cukup berat, tapi sepertinya cukup memikat hati saya untuk berkecimpung di bidang tersebut. Secara pribadi, saya ucapkan terimakasih banyak atas ilmu yang kalian presentasikan tadi. Sebab, ilmu yang disampaikan sangat memberikan saya bayangan mengenai tanggung jawab atau tugas-tugas secara umumnya saat menjadi konselling di sekolah Anak Berkebutuhan Khusus. "Thank youuu, Guys"

     Konselor sekolah membantu dalam pemilihan calon generasi OSIS. Menurut saya sebenarnya sih bagus juga bila konselor turun tangan dalam membantu memilih calon-calon yang sesuai dengan minat dan kepribadiannya. Saya rasa ini akan sangat membantu para pejabat OSIS yang akan lengser dalam memilih orang yang tepat. Jadi kepikiran untuk menerapkan hal ini di SMA saya bersekolah. Hal ini sepertinya jarang diterapkan untuk daerah Tangerang. Mungkin malah tidak ada sekolah di Tangerang yang menerapkannya.


      Pelajaran moral yang saya dapatkan pada hari ini adalah apapun yang nantinya dipilih, entah itu Psikologi  Klinis Dewasa, Psikologi Klinis Anak, PIO, atau pun Psikologi Pendidikan, yang terpenting adalah semua dipilih matang-matang. Pilih sesuai dengan hati dan minat. Tapi yang lebih penting lagi, apapun yang dipilih, kita harus berani mempertanggungjawabkannya dengan kompeten yang kita miliki. Jika bukan keahlian kita, sebaiknya diberikan ke yang lebih ahli. Caranya agar kita menjadi kompeten, yaaa belajar doongg. Jangan pernah merasa cukup dengan ilmu yang sudah didapat, tapi "harus banyak belajar lagi" :)

     Sebenarnya sih masih banyak lagi yang ingin saya curahkan di blog ini. Namun karena kebatasan watt mata yang sudah sayu (maklum bikinnya tengah malam. hehe), saya cukupkan sampai di sini. Sekian dari saya.. Btw, terima kasih juga untuk waktu dan niat baiknya  karena sudah sudi membaca tulisan saya yang banyak kekurangannya ini. Sampaiii ketemu lagi di tugas blog berikutnya,, Itu pun kalo dosen saya memberikan tugas menulis di blog lagi.. hehehe


Nurul Hidayah - 705100115

Harus Banyak Belajar lagi :)

     Pada hari ini (04/04/2013) mata kuliah Teknik Wawancara memberikan tugas untuk bercerita di Blog lagi. Untungnya belajar dari minggu lalu, pada saat mengunyah materi (makanan kaliii dikunyah, hehe) yang disampaikan kelompok tadi saya sudah mempersiapkan mata saya untuk siaga selama tujuh hari tujuh malam. Okey, ini memang lebay! yang sebenarnya adalah 215 menit lamanya. Hayooo,, 215 menit berapa jam? hihihi.. Karena minggu lalu, dengerinnya setengah nyawa makanya hari ini sengaja melekkin mata. Tapi aneh loh pe e pe mi i mir s a sa (dibaca : pemirsa), walaupun tadi belajarnya kelebihan 35 menit (tapi nggak kerasa loh. Entah efek niat gara-gara belajar dari kesalahan minggu lalu, atau karena emang materinya bidang gue banget! (Nahhh lohhh saya jadi semangat gini.. :D).


     Baiklah sebelum blog saya berubah menjadi sebuah novel layaknya sinetron "Cinta Fitri" hingga babak ke-enam dan sebelum pikun akut saya kambuh, saya akan memulai informasi-informasi atau pengetahuan baru yang tadi saya serap (akarrr kaliii serap-serap :p). Jengggg jengggg.... Ini diaaa!
     Tiga kelompok yang pertama adalah kelompok yang mempresentasikan mengenai Psikologi Industri dan Organisasi (PIO). Sebenarnya agak males sih dengerinnya, maklumlah bukan minat saya untuk bidang PIO ini. Akan tetapi ada beberapa info yang baru saya tahu dari Ci Ta*** (Sebut merk ngga yaaa.. hehehe). Berikut info yang menurut saya cukup menarik :
  • HRD juga ternyata bisa diancam oleh pelamarnya. Sebelum denger ini, saya belum pernah kepikiran kalau pelamar juga ada saja yang memiliki keberanian atau kecenderungan untuk mengancam sang interviewer. Mungkin ini salah satu sikap putus asa mereka yang takut tidak terpilih. Tapi please deh,, nggak harus segitunya juga kaleee... Kalau nggak bisa menangani perilaku yang ekstrim seperti ini bukan psikolog namanya. Karena itu, biasanya interviewer tidak langsung memberitahu kalau orang yang sedang di-interview ini tidak diterima. Biasanya, cara menolak halusnya dengan tidak memberi kabar lebih dari 2 minggu (Emang enak digantungin :p).
  • HRD memiliki bakat "bajak membajak". Maksudnya adalah HRD memilliki strategi untuk menghasut  seseorang yang kompeten pada jabatan manager ke atas dengan cara halus untuk berpindah kerja ke tempat HRD tersebut. Nah lohh,, udah kaya politik ajeee.. >.<
  • HRD menolak pelamar yang memiliki IPK di atas 3,3. Saat mendengar Asisten Dosen (Asdos) saya yang tercinta, sontak kelas menjadi gaduh. Teman saya yang IPK di atas 3,3 mereka menjadi resah (khususnya yang mengincar pekerjaan bidang PIO). Sebaliknya saya sempat mendengar ada yang mengatakan, "YESS!! Untung IPK gue 3,00!". Parahnya lagi saya mendengar ada yang dengan polosnya mengatakan, "Masa gue harus turunin IPK gue gitu" hahaha,, dan saya sendiri, "Untung nggak minat PIO :D". HAHAHA #DevilModeOn.

     Sekian dari PIO, Selanjutnya tiga kelompok terakhir membahas mengenai Psikologi Pendidikan. Tau Nggak Sih ?? kelompok pertama yang menyajikan itu adalah kelompok saya loh.. Ihiiyyy, Nggak penting kaleeee... >,< Berikut adalah foto saya dan teman-teman saat mau wawancarai guru Konseling dari salah satu SMA swasta di Jakarta. (Fotonya cuma pengen mamerrr ajaaa kok.. D: )


     Masih semangat bacanya kan yaa? Sekarang mulai yuk ke topik Psikologi Pendidikan yang kelompok saya dan teman-teman sempat sampaikan. Namun, di sini saya hanya akan memberikan informasi yang menurut saya menarik dari Psikologi Pendidikan.
  • Ternyata di konseling juga ada untuk Anak Berkebutuhan Khusus loh. Pernyataan ini merupakan kabar gembira buat saya yang emang berencana untuk melanjutkan S2 dengan mayor Klinis Anak dan minor Psikologi Pendidikan. Walaupun kerjanya cukup berat (menurut saya loh yaa..), tapi sepertinya cukup memikat hati saya untuk berkecimpung di bidang tersebut. Secara pribadi, saya ucapkan terimakasih banyak atas ilmu yang kalian presentasikan tadi. Sebab, ilmu yang disampaikan sangat memberikan saya bayangan mengenai tanggung jawab menjadi konselling di sekolah Anak Berkebutuhan Khusus. "Thank youuu, Guys" :D
Konselor sekolah membantu dalam pemilihan calon generasi OSIS. Menurut saya sebenarnya sih bagus juga bila konselor turun tangan dalam membantu memilih calon-calon yang sesuai dengan minat dan kepribadiannya. Saya rasa ini akan sangat membantu para pejabat OSIS yang akan lengser dalam memilih orang yang tepat. :D Jadi kepikiran untuk menerapkan hal ini di SMA saya bersekolah. Hal ini sepertinya jarang diterapkan untuk daerah Tangerang. Mungkin malah tidak ada sekolah di Tangerang yang menerapkan. #BerasaPahlawanKesiangan :)



      Pelajaran moral yang saya dapatkan pada hari ini adalah apapun yang nantinya dipilih, entah itu Psikologi  Klinis Dewasa, Psikologi Klinis Anak, PIO, atau pun Psikologi Pendidikan, yang terpenting adalah semua dipilih matang-matang. Pilih sesuai dengan hati dan minat. Tapi yang lebih penting lagi, apapun yang dipilih, kita harus berani mempertanggungjawabkannya dengan kompeten yang kita miliki. Jika bukan keahlian kita, sebaiknya diberikan ke yang lebih ahli. Caranya agar kita menjadi kompeten, yaaa belajar doongg. Jangan pernah merasa cukup dengan ilmu yang sudah didapat, tapi "harus banyak belajar lagi" :)

     Sebenarnya sih masih banyak lagi yang ingin saya curahkan di blog ini. Namun karena kebatasan watt mata yang sudah sayu (maklum bikinnya tengah malam. Tolong jangan ada yang protess.. hihihi #CeritanyaNgancem), saya cukupkan sampai di sini. Sekian yaa teman-teman.. Btw, terima kasih juga untuk waktu dan niat (sebenarnya sih kepo aja) karena sudah membaca tulisan saya yang banyak kekurangannya. Sampaiii ketemu lagi di tugas blog berikutnya,, Itu pun kalo dosen saya memberikan tugas menulis di blog lagi.. hihihihi ketauan deh modusnya.. :D Byeeee....!!