Akhirnya tiba pada tugas membuat blog terakhir sebelum UTS. Pada Senin lalu (25/03), Dosen pengganti mata kuliah Teknik Wawancara menerangkan mengenai "laporan hasil wawancara". Pada tugas kali ini, saya hanya akan menerangkan sedikit yang bisa saya pahami (efek dari nggak bisa move on setelah kuis yang berlangsung di sesi awal kelas).
| |
| diperoleh dari : http://belajarbahasa-bahasaindonesia.blogspot.com/2012_05_20_archive.html |
Saat mewawancarai, tujuannya bukan untuk sekedar "kepoo", tapi lebih pada ingin mengambil data yang cukup penting. Oleh karena itu, dalam wawancara tidak boleh asal. Selain ada beberapa yang harus diperhatikan dalam teknik pengambilan datanya, juga terdapat hal-hal yang perlu diperhatikan untuk laporan yang akan disampaikan. Berikut ada tiga hal yang akan dilaporkan setelah mendapatkan data: Hasil wawancara, Observasi subjek, dan Refleksi sebagai pewawancara.
Pada hasil wanwancara yang harus diperhatikan adalah bahwa hasil wawancara merupakan rangkuman cerita subjek dengan urutan yang sistematis. Bukan berdasarkan cerita dari subjek. Mungkin bila yang tidak memperhatikan hal ini, akan membuat kesalahan saat membuat laporan hasil wawancara. Karena mungkin tanpa disadari saat menuliskan cerita dari subjek, susunan dalam penulisannya adalah urut dari yang subjek katakan. Maka dari itu, saat mendengarnya saya sudah memberikan ultimaltum pada diri saya untuk lebih berhati-hati.
Untuk observasi subjek, dosen pengganti mengatakan bahwa pada saat menuliskan hasil observasi, jangan memasukkan data yang tidak penting. Misalnya, subjek adalah orang yang berkecukupan karena subjek memamakai jam tangan dengan brand guess. Informasi ini sedikit bertentangan dengan kelas metode observasi yang pernah saya ikuti. Di kelas metode observasi, mahasiswa diajarkan untuk observasi dengan detail. Hingga brand yang dipakai subjek bisa dideteksi. Pokoknya harus detai-sedetailnya deh (saking detailnya membuat beberapa mahasiswa mengeluh). Mungkin tujuannya adalah untuk membuat mahasiswa peka dengan apa yang dilihat dan didengar.
Back to topic, pada saat menuliskan hasil observasi cukup menuliskan keterangan-keterangan yang relevan. Perlu diperhatikan hal-hal yang tidak normal dibandingkan dengan perkembangannya. Misalnya, usia 23 tahun namun memiliki tinggi badan 120cm.
Selanjutnya refleksi sebagai pewawancara. Pada refleksi ini mengajarkan pewawancara untuk pengembangan diri dan intropeksi diri. Menurut yang saya baca, hal ini berkaitan erat dengan materi-materi yang sudah dipelajari pada minggu-minggu sebelumnya.
Sampai di sini, mungkin ada pembaca yang menyadari hubungan kejujuran dengan tiga hal yang akan dilaporkan saat laporan hasil wawancara. Kalo menurut saya yaaa, saat kita menuliskan hasil wawancara, observasi, dan refleksi ini menguji kejujuran kita sebagai pewawancara.
Alasan yang pertama, bila kita memaksakan pandangan kita dan akhirnya mempengaruhi hasil wawancara tentunya akan berakibat confirmatory bias. Saat menerapkan kejujuran, mungkin akan membantu mengurangi subjektivitas dalam menuliskan laporannya. Apa adanya saja, tidak perlu rekayasa. Terutama saat ada niat membenarkan kesalahan ketika menuliskan laporan. Contohnya saat tidak begitu paham dengan cerita yang subjek ceritakan, akhirnya kita memanipulasi ceritanya hingga urutannya menjadi sistematis. Padahal hal tersebut hanya ingin menyembunyikan kesalahan semata.
Alasan kedua dalam menuliskan hasil observasi. Saya sempat berpikir, saat wawancara mungkin saja subjek akan berbuat hal-hal yang memalukan dirinya dan kita akan menuliskannya di laporan hasil observasi. Lalu bagaimana dengan hal-hal memalukan yang dilakukan subjek juga memalukan kita? Mungkin untuk menutupinya kita tidak akan menuliskannya. Oleh sebab itu, kejujuran akan membantu kita untuk bersikap profesional.
Alasan yang terakhir mengenai refleksi sebagai pewawancara. Untuk seorang pewawancara junior, mungkin akan ada saja seseorang yang membuat kesan positif dalam hasil refleksinya. Padahal belum tentu demikian. Oleh sebab itu, kejujuran di sini sangat diperlukan agar pewawancara bisa mengintropeksi diri yang tidak hanya untuk poin positifnya saja. Toh poin negatif mungkin akan membantu kita dalam menyadari kesalahan-kesalahan yang kita lakukan saat wawancara. Hal ini tentunya akan memberikan pengaruh besar dalam pengembangan diri.
Berdasarkan hal tersebut, bagi saya jujur itu penting. Bukan hanya pada berhubungan dengan orang lain, namun juga untuk berhubungan dengan diri sendiri. Untuk kejujuran dalam konteks ini, saya masukkan ke dalam jujur dengan diri sendiri. Sebab jujur dalam konteks menuliskan hasil wawancara, observasi, dan refleksi sebagai pewawancara berkaitan erat dengan profesionalism seseorang.
Jangan pernah remehkan kejujuran yaaa saat kita melakukan hal apapun itu,, :D Karena jujur itu penting, dan berani JUJUR itu HEBAT!! :)
| diperoleh dari : http://orangjujurhebat.blogspot.com/2012/09/belajar-menjadi-orang-yang-jujur.html |
No comments:
Post a Comment