Setelah berkuliah hingga sore, ia pun
menyusuri jalan untuk menjemput bis kota yang biasa mengantarkannya pulang
kuliah setiap harinya. Begitulah aktivitas perjalanannya dalam berjuang
merengkuh pendidikan S1 di salah satu Perguruan Tinggi Swasta di Jakarta.
Seorang gadis muda yang memiliki motivasi dan minat tinggi di bidang Psikologi
itu adalah Kaina. Saat sedang berusaha memejamkan matanya, tiba-tiba handphone-nya bergetar. Ternyata ada
sebuah SMS dari salah satu nomor tetangganya yang mengurusi semua keperluan
administrasi rawat inap ayahnya yang tengah sakit cukup parah. Setelah
membacanya, ia kembali menutup matanya. Tak lama ia membuka matanya lagi. Dia
terdiam dan menatap lurus ke depan dengan tatapan mata yang kosong.
Bola matanya melirik pada seseorang yang
membuat pikirannya kembali fokus. Kaina menatap seorang pria berusia sekitar 40
tahun-an sedang menggendong seorang balita yang menangis.
Sedangkan ibunya hanya membantu mendiamkan balita dengan godaan-godaan kecil. Namun tetap saja balita tersebut menangis. “Mungkin ibunya lupa membawa susu untuk anaknya atau mungkin karena ibunya hanya membawa susunya sedikit. Makanya susunya sudah habis” pikir kaina.
Sedangkan ibunya hanya membantu mendiamkan balita dengan godaan-godaan kecil. Namun tetap saja balita tersebut menangis. “Mungkin ibunya lupa membawa susu untuk anaknya atau mungkin karena ibunya hanya membawa susunya sedikit. Makanya susunya sudah habis” pikir kaina.
Kaina semakin dalam menatap kondisi balita
tersebut. Tanpa disadari dia meneteskan airmata. Tangisannya semakin kencang.
Tak lama kemudian dia tersenyum. Tawanya terdengar lirih. Ia tersenyum dan
kembali mencoba memejamkan matanya. Sesampainya di terminal pemberhentian
terakhir, ia pun turun dan menyebrang jalan. Dia menaiki angkutan umum. Tibalah
ia di suatu tempat. Ia kembali berjalan menuju Rumah Sakit. Saat di lantai 3,
ia langsung melihat ibunya dan banyak orang yang melainkan adalah tetangganya. Ibunya
terlihat menangis dan perlahan berjalan bersama Kaina ke ruang kamar. Tampaklah
ayahnya yang sedang tertidur. Ibunya bercerita tentang keadaan ayahnya yang
sedang sekarat sambil menangis tersendu-sendu. Kaina memarahi ibunya agar
berhenti menangis. Ibunya tersentak namun tetap menangis. Kaina
berteriak-teriak memaki ibunya. Tetangga berdatangan. Mereka menghampiri Kaina
dan membawanya ke suatu tempat yang tidak jauh dari ruang kamar inap ayahnya.
Dia duduk di pijakan anak tangga. Dia terdiam dengan tatapan kosong.
Tetangganya terkejut saat melihat Kaina
tersenyum dan tertawa. Datanglah seorang tetangganya yang memberitahukan bahwa
ayahnya Kaina sudah meninggal. Dua orang tetangganya yang ada di sampingnya
mencoba menenangkan Kaina saat dia menangis kejer. Dia berlari ke ruang kamar
inap ayahnya dan mengacuhkan omongan tetangganya. Dia menatap ayahnya. Ibunya
menghampiri dia. Mereka pun saling berpelukan sambil menangis.
Ayahnya pun di makamkan di kampung halaman
Ibunya. Kaina nampak selalu tersenyum saat saudara-saudara dan tetangganya
mengucapkan bela sungkawa. Sedikit pun ia tidak menunjukkan wajah berduka.
BERSAMBUNG
No comments:
Post a Comment