Saturday, April 20, 2013

Emosiku Labil


     Setelah berkuliah hingga sore, ia pun menyusuri jalan untuk menjemput bis kota yang biasa mengantarkannya pulang kuliah setiap harinya. Begitulah aktivitas perjalanannya dalam berjuang merengkuh pendidikan S1 di salah satu Perguruan Tinggi Swasta di Jakarta. Seorang gadis muda yang memiliki motivasi dan minat tinggi di bidang Psikologi itu adalah Kaina. Saat sedang berusaha memejamkan matanya, tiba-tiba handphone-nya bergetar. Ternyata ada sebuah SMS dari salah satu nomor tetangganya yang mengurusi semua keperluan administrasi rawat inap ayahnya yang tengah sakit cukup parah. Setelah membacanya, ia kembali menutup matanya. Tak lama ia membuka matanya lagi. Dia terdiam dan menatap lurus ke depan dengan tatapan mata yang kosong. 

     Bola matanya melirik pada seseorang yang membuat pikirannya kembali fokus. Kaina menatap seorang pria berusia sekitar 40 tahun-an sedang menggendong seorang balita yang menangis.
Sedangkan ibunya hanya membantu mendiamkan balita dengan godaan-godaan kecil. Namun tetap saja balita tersebut menangis. “Mungkin ibunya lupa membawa susu untuk anaknya atau mungkin karena ibunya hanya membawa susunya sedikit. Makanya susunya sudah habis” pikir kaina. 

     Kaina semakin dalam menatap kondisi balita tersebut. Tanpa disadari dia meneteskan airmata. Tangisannya semakin kencang. Tak lama kemudian dia tersenyum. Tawanya terdengar lirih. Ia tersenyum dan kembali mencoba memejamkan matanya. Sesampainya di terminal pemberhentian terakhir, ia pun turun dan menyebrang jalan. Dia menaiki angkutan umum. Tibalah ia di suatu tempat. Ia kembali berjalan menuju Rumah Sakit. Saat di lantai 3, ia langsung melihat ibunya dan banyak orang yang melainkan adalah tetangganya. Ibunya terlihat menangis dan perlahan berjalan bersama Kaina ke ruang kamar. Tampaklah ayahnya yang sedang tertidur. Ibunya bercerita tentang keadaan ayahnya yang sedang sekarat sambil menangis tersendu-sendu. Kaina memarahi ibunya agar berhenti menangis. Ibunya tersentak namun tetap menangis. Kaina berteriak-teriak memaki ibunya. Tetangga berdatangan. Mereka menghampiri Kaina dan membawanya ke suatu tempat yang tidak jauh dari ruang kamar inap ayahnya. Dia duduk di pijakan anak tangga. Dia terdiam dengan tatapan kosong. 

     Tetangganya terkejut saat melihat Kaina tersenyum dan tertawa. Datanglah seorang tetangganya yang memberitahukan bahwa ayahnya Kaina sudah meninggal. Dua orang tetangganya yang ada di sampingnya mencoba menenangkan Kaina saat dia menangis kejer. Dia berlari ke ruang kamar inap ayahnya dan mengacuhkan omongan tetangganya. Dia menatap ayahnya. Ibunya menghampiri dia. Mereka pun saling berpelukan sambil menangis.

     Ayahnya pun di makamkan di kampung halaman Ibunya. Kaina nampak selalu tersenyum saat saudara-saudara dan tetangganya mengucapkan bela sungkawa. Sedikit pun ia tidak menunjukkan wajah berduka.

BERSAMBUNG

No comments:

Post a Comment