Sunday, May 26, 2013

Lets do it!

      Pada 3 minggu terakhir ini, saya praktikum wawancara dalam 3 setting. Pertama itu pratikum Psikologi Industri dan Organisasi. Pratikum pertama kalo tidak salah (berarti bener..) jatuh pada hari Senin (06/05/13). Nahh,, Pas hari minggunya tuh yaa, sebelum hari Senin, stresnya minta ampun. Kalo otak bisa protes, dia bakal protes kali yaa, "Nggak bosen apa mikirin buat besok! Tugas noh kerjain". hahaha.. mungkin kalo bisa ditebak, kurang lebih begitulah bunyinya protesan otak saya ini. 

      Keesokan harinya,,
     Setelah menunggu beberapa menit untuk mengantri sembako jatah pratikum ke sebuah ruangan di kampus yang pada hari itu juga adalah pertama kalinya saya masuk ke ruangan itu, nama kelompok saya pun dipanggil juga. Kebetulan pertama kali kelompok kami dapat jatah menjadi "OBSERVER". Itu di capslock gitu tulisannya ada alasannya loh, alasannya itu karena saya merasa beruntung. Dengan menjadi observer, perasaan tegang langsung runtuh seketika. huh! Nafas terasa plooonnggg!! 

     Hokinya lagi, orang yang saya obervasi pertama kali adalah teman saya yang sangat bagus sekali saat memerankan interviewer. Begitu mengkhayati..  Jadi pada hari pertama itu saya seharusnya berterima kasih pada teman saya tersebut, begitu menginspirasi.. :D (Urutan perannya : jadi observer, klien, dan interviewer).

     Seminggu kemudian...
     Tibalah pada pratikum wawancara setting Psikologi Pendidikan. It's my favorite! Pada minggu kedua ini, rasanya tidak begitu terlalu tegang. Setidaknya tidak sampai membuat otak saya protes seperti minggu pertama. :D Pratikum pendidikan ini, saya lebih banyak membayangkan guru Bimbingan Konseling (BK) saya sewaktu SMA. Hmmm,, Nggak sia-sia juga dulu suka nongkrong di ruang BK. :p Pada pratikum Pendidikan ini, jatah pertama kelompok saya adalah menjadi klien. (Urutan perannya : jadi klien, interviewer. dan observer).

     Dua Minggu kemudian,,
     Minggu ketiga ini adalah pratikum wawancara yang terakhir. (Huh!! Akhirnyaaa...!!). Begitu lah perasaan saya sewaktu pratikum ketiga dalam setting Psikologi Klinis ini. Hmm,, Sebenarnya pada saat pratikum Klinis ini, kelompok saya belum membuat pedoman pertanyaannya (soalnya kelompok saya ganti tema). Tapi entah mengapa, karena saya terlalu keenakan dengan 2 pratikum sebelumnya. Saya seakan jadi meremehkannya. Tapi untuk jaga-jaga, saya meminta nasehat pada salah satu dosen di kampus saya (sepertinya saya juga harus say to thanks pada beliau.. :). 

     Kena batunya deh!
     Pada pratikum minggu ketiga, kelompok saya pertama kali mendapat jatah menjadi interviewer. Jenggg.. jenggg... Saat prakteknya, nggak selancar pratikum 2 minggu sebelumnya. Psikolog Klinis sepertinya emang harus pintar-pintar yaa memainkan kata-kata dalam menghadapi kliennya.

     Intinya, daripada belajar teorinya melulu, penting juga loh kita praktekkin ilmu yang udah dipelajari. Karena prakteknya nggak segampang teorinya.. Teori mah asal nempel,, Ada soal, bisa jawab? Kita bisa dibilang udah lulus. Tapi kalo disuruh praktekkinnya? Belum tentu semudah menghafal teori :D
So, Just Lets do it!!  :D

Saturday, May 4, 2013

"Kamu mau gaji berapa?"

     Pada perkuliahan Teknik Wawancara minggu ini (29/04/13) menghadirkan seorang bintang tamu. Bintang tamu yang berkecimpung di bidang Psikologi Industri dan Organisasi ini, bekerja di sebuah perusahaan sebagai HR (kalau tidak salah). Sebenarnya agak bingung juga ingin menuliskan apa tentang materi minggu ini. Selain karena saya terlambat masuk kelas yang diakibatkan satu hal (pengakuan dosa, hiks hiks hiks), juga karena saya memang tidak terlalu meminati bidang ini. Namun karena cukup termotivasi untuk mendapatkan nilai tambahan (berusaha memaksimalkan usaha yang terbaik boleh dong, hehe), saya harus memutar otak saya lagi untuk mengingat materi apa saja yang saya dapatkan dari yang disampaikan oleh bintang tamunya.

     Dari yang saya dengar, apa yang disampaikan bintang tamu (sebut saja Mr. J) ini tidak jauh berbeda dengan apa yang sudah dipelajari di kelas sebelumnya. Namun pada kelas kemarin, ada satu topik yang menjawab rasa penasaran saya. Topik tersebut mengenai pertanyaan 'gaji' yang diinginkan. Sebelum saya mengenal lebih dalam tentang dunia Psikologi Industri dan Organisasi atau yang biasa disingkat PIO, saya sangat penasaran tentang hal tersebut. Saya pernah mendengar, bila ditanya tentang ingin dibayar berapa ketika wawancara, ada yang mengatakan lebih baik memberikan jawaban seperti "terserah bapak atau ibu saja". Jawaban ini agar terkesan bahwa calon pekerjanya tidak matre (yaa kalii hari gini gitu loh, kalo nggak matre mau makan apa? :D).

     Namun di sisi lain, ada yang bilang bila ditanya mengenai ingin gaji berapa, lebih baik menjawab standar gaji yang kita inginkan, "10 juta aja cukup pak/bu". Katanya, jawaban seperti ini akan memberikan kesan bahwa kita memiliki percaya diri. Sehingga sang interviewer akan memiliki pandangan positif mengenai performance kita saat bekerja nanti.

     Faktanya,  saat di kelas Mr. J memberikan jawaban yang menentang kedua jawaban yang terdapat di paragraf sebelumnya. Saya sangat setuju dengan jawaban Mr. J ini. Kenapa? Alasannya saat kita pasrah ingin digaji berapa aja hal tersebut justru harus dipertanyakan. Jangan-jangan interviewee cuma pengen bermanis-manis biar diterima (hahaha, tipe penjilat gitu kali yaa). Selain itu, kalau nanti beneran dibayar murah gimana? Makanya jangan deh pake cara ini hanya untuk terlihat "bagus" (mencegah penambahan pegawai yang demo :D).

     Alasan untuk jangan meminta gaji yang terlampau besar adalah mengenai pertanggung jawaban kinerja kita di masa depan. Malu dong kalau kita udah dengan pedenya minta gaji yang besar, ternyata kinerja kita kelas teri. Hahaha, jadi lebih baik jawabannya harus yang masuk akal juga lah (sesuai dengan kinerja kita).


     Dalam penerimaan atau nggaknya sih kayanya tidak dilihat dari jawaban mau digaji berapa yaa? Lebih dari itu, masih banyak pertimbangan-pertimbangan lain apakah kita diterima atau tidak. Contohnya dari hasil wawancara (jawaban interviewee saat diberikan pertanyaan mengenai STAR), dan hasil tes-tes psikologi. Kesimpulan yang saya tangkep sih, kalau kita memang memiliki skill yang perusahaan butuh dan memenuhi kriteria (setidaknya hampir) perusahaan, perusahaan juga pasti akan memberikan gaji yang layak. Tapi jangan lupa loh, setiap perusahaan memiliki standar masing-masing untuk masalah pemberian gaji pekerjanya.

     Cukup sekian hal-hal yang bisa saya share,, Walaupun tidak banyak, mudah-mudahan ada manfaatnya yaa untuk yang sudah bersedia baca blog saya yang masih banyak kekurangannya ini.


Sunday, April 21, 2013

Naskah Film Pendek


Naskah film pendek
Oleh : Nurul Hidayah

Sinopsis : cerita bagaimana seorang gadis yang berambisius untuk menjadi kaya dengan mudah

Scene 1.  Int. Rumah Maya-Ruang Makan (Pagi hari)
Cast : Maya (Mahasiswi Fashion desain dan anak bungsu), Bu Lidya (Ibu Maya), Mesa (Kakak pertama Maya), dan Marla (Kakak kedua Maya).

Situasi pagi hari di ruang makan.

Bu Lidya menyiapkan piring, tempat sendok dan garpu, tumpeng nasi, dan lauk-pauk.
Bu Lidya menatap ke arah meja makan, “Anak-anak ibu sudah pada rapih semua. Ayo kita makan, ini makanannya sudah ibu siapkan”
Mesa, dan Marla menggeser bangku dan kemudian duduk.
Maya : “Makanan sampah kaya gini ibu kasih ke Maya? Mendingan Maya makan di Kampus aja deh”. 


Scene 2.  Int. Rumah Maya-Ruang Makan (Pagi hari)
Cast : Maya (Mahasiswi Fashion desain dan anak bungsu), Bu Lidya (Ibu Maya), Mesa (Kakak pertama Maya), Marla (Kakak kedua Maya), dan Pak Bayu (Ayah Maya).

Pak Bayu muncul ke ruang makan.
Pak Bayu : “Kamu ndak boleh bicara seperti itu sama ibumu. Hargai masakan ibumu. Minta maaf sama ibumu”.
Maya hanya menatap ayahnya.
Mesa : “Dengerin kata Pa’e, kamu tuh baru anak kuliahan aja udah sombong”.
Maya : “Nggak usah bawel deh ka, tugas lo tuh cuma kasih gue duit buat jajan. Mana jatah buat gue?”
Mesa : “minta maaf dulu sana sama Ibu, baru gue kasih duitnya”.
Maya menatap mata kakaknya dengan tajam dan ia membalikkan badan berjalan ke luar rumah.
Ibu Lidya : “Sudah Mesa, kamu jangan begitu sama adekmu. Kasian adekmu kalo nggak kamu kasih duit”
Pak Bayu : “Sudah biarin saja. Anak itu sudah keterlaluan. Biar dia cari makan sendiri”.


Scene 3.  Ext. Depan Gang Rumah Maya (Pagi hari)
Cast : Maya (Mahasiswi Fashion desain dan anak bungsu)

Maya berdiri di pinggir jalan dan mengeluarkan Handphone-nya dari dalam tas.
Maya : “Mana lagi pacar gue? Lama-lama ngeselin. Minta gue putusin kali ya” (bisik dalam hati)
Maya memencet tombol angka dan meletakkan handphonenya di kuping kanannya.
Maya : “nggak di angkat lagi” Keselnya.


Scene 4.  Ext. Depan Gang Rumah Maya (Pagi hari)
Cast : Maya (Mahasiswi Fashion desain dan anak bungsu), dan Avin (Pacar Maya)

Avin membuka kaca helmnya.
Maya : “Lama banget sih?”
Avin : “Maaf ya sayang, kita berangkat ke kampus nih?”
Maya : “Gue laper, kita makan dulu di Café yaa”
Avin : “Okeee..” Menjalankan motornya.


Scene 5.  Int. Café  (Pagi hari)
Cast : Maya (Mahasiswi Fashion desain dan anak bungsu), Avin (Pacar Maya).

Maya dan Avin duduk di meja dekat pintu ke luar sebuah café.
Avin : “Kamu tadi nggak sarapan beb?”
Maya : “Belumlah, kalo udah ngapain gue ajak lo makan di café. Udah lo nggak usah bawel, lo cukup bayarin bill-nya” 


Scene 6.  Int. Café  (Pagi hari)
Cast : Maya (Mahasiswi Fashion desain dan anak bungsu), Avin (Pacar Maya), Pak Damar (Dosen Baru Maya), dan pelayan café.
Pak Damar berjalan keluar sambil menelepon. Tiba-tiba menabrak pelayan café yang sedang mengantarkan minuman ke meja makan Maya dan Avin.
Pak Damar : “Maaf, saya benar-benar tidak sengaja. Biar saya yang bayarin bill untuk minumannya”
Maya : “Adduuuhh,,, nggak punya mata kaliii lu ya” kesal Maya.
Avin : “Udah, bep. Dia kan udah minta maaf”
Pak Damar : “Maaf yaa,, “ menatap mata Maya dan Avin. Lalu segera pergi dari café tersebut.
Maya : “Lo tuh yaa vin, kabur kan tuh orang! Resek!”
Avin : “sabarr beb”


Scene 7.  Int. Kampus Fakultas Desain Fashion-Ruang Kelas  (Pagi hari)
Cast : Maya (Mahasiswi Fashion desain dan anak bungsu), Pak Damar (Dosen Baru Maya), dan para mahasiswa.

Pak Damar sedang memperkenalkan dirinya di depan kelas.
Pak Damar : “Nama saya Damar Al Habsy. Saya lulusan IFA Paris. International Fashion Academy  atau Fashion Institute of Prancis Internasional. Saya..”
Tiba-tiba Maya masuk kelas.
Maya : “Maaf pak saya telat. Tadi sayaa… elo?” Maya terkejut ketika melihat dosen Sejarah Fashionnya bukan dosen yang biasanya mengajar.
Pak Damar : “Yaa, saya adalah dosen baru di sini yang akan menggantikan Pak Rudy mengajar untuk mata kuliah Sejarah Fashion. Kamu keberatan?”
Maya : “ehhh,, nggak kok pak..” sambil nunduk dan berjalan ke arah bangku yang kosong.
Pak Damar : “Memangnya saya udah ijinkan kamu untuk duduk?”
Maya hanya menggeleng.
Pak Damar : “Karena ini hari pertama saya, saya akan memaafkan keterlambatan kamu”
Maya hanya menatap Pak Damar.
Pak Damar : “Btw, saya minta maaf untuk kejadian di café yang tadi pagi ya”
Beberapa mahasiswa menatap ke arah Maya. Muka Maya memerah.


Scene 8.  Int. Kampus Fakultas Desain Fashion-Ruang Kelas  (Pagi hari)
Cast : Maya (Mahasiswi Fashion desain dan anak bungsu), Pak Damar (Dosen Baru Maya), Una (Teman dekat Maya), Olivia (Teman dekat Maya), dan para mahasiswa.

Beberapa mahasiswi menghampiri Pak Damar.
Maya : si Oliv centil banget sih. Pake nyamperin tuh dosen baru. Apa hebatnya coba?”
Una : “Ya hebatlah May, Pak Damar itu lulusan Paris. Tadi aja gue liat di bawa mobil sport. Wow banget kan?”
Maya : “Masa sih?”
Una : “Makanya jangan telat. Jadi nggak update kan lo” sambil menatap ke arah Pak Damar yang sedang dikerubungi beberapa mahasiswi.
Maya : “Gue harus cari info tentang dosen baru ini” katanya dalam hati.


Scene 9.  Ext. Kampus Fakultas Desain Fashion-Taman Fakultas  (sore hari)
Cast : Maya (Mahasiswi Fashion desain dan anak bungsu), Avin (pacar Maya), dan Pak Damar (Dosen Baru Maya).

Pak Damar : “Kamu belum pulang?”
Maya menengok ke arah belakangnya.
Pak Damar : “Kamu lagi ada masalah? Sepertinya wajah kamu terlihat..”
Avin : “Maaf sayang, aku tadi ada kelas tambahan. Mendadak banget jadi aku nggak bisa kabarin kamu”.
Maya : “Lo pikir lo siapa? Gue nungguin lo tuh udah sejam lebih tau nggak”
Avin : “iyaaa tadi..”
Maya : “Kita putus!” sambil berjalan ke arah gerbang pintu.
Avin dan Pak Damar hanya menatap Maya berjalan menjauh.



Scene 10.  Ext. Depan Gang Rumah Maya (pagi hari)
Cast : Maya (Mahasiswi Fashion desain dan anak bungsu), dan Pak Damar (Dosen Baru Maya).

Maya berdiri di pinggir jalan. Saat ia mengambil handphone dari tasnya, ia baru menyadari bahwa ia dan Avin baru saja putus. Ia pun berencana menaiki kendaraan umum. Ketika ia sedang menunggu kendaraan umum jurusan ke kampusnya, ada sebuah mobil sport yang melewatinya dan berjalan mundur hingga tepat berada di depan Maya mobil tersebut berhenti. Orang yang ada di dalam mobil tersebut ke luar dari mobilnya.
Pak Damar : “Hey, ketemu di sini. Rumah kamu di daerah sini?” Sambil melihat lingkungan sekitar.
Maya : “ee.. nggak pak. Ini saya tadi lagi main ke rumah pembantu saya. Dia lagi sakit gitu. Jadi saya di suruh nyokap buat jengukin dia sebelum berangkat kuliah. Gituu pak,,”
Pak Damar : “ouh gtu, hmm, kamu mau bareng saya?”
Maya : “bareng ke kampus pak?”
Pak Damar : “Iya masa kerumah kamu” canda Pak Damar.
Maya dan Pak Damar tertawa dan berjalan memasuki mobil Pak Damar.


Scene 11.  Int. Dalam Mobil (pagi hari)
Cast : Maya (Mahasiswi Fashion desain dan anak bungsu), dan Pak Damar (Dosen Baru Maya).
Pak Damar : “Cantik, Baik hati, dan Pandai, saya rasa kamu benar-benar wanita pujaan banyak lelaki”
Maya : “Maksud bapak?”
Pak Damar : “Maksud saya, kamu tidak perlu sedih karena baru saja putus dari pacar kamu yang kemarin itu”
Maya : “biasa saja koq pak. Tapi bapak juga pujaan banyak mahasiswi di kampus”
Pak Damar : “hahaha, bisa saja kamu”
Maya : “Tapi kok bapak masih single ya? Nggak mau punya pacar pak?”
Pak Damar : “belum May. Cari pacar itu lebih sulit daripada cari beasiswa di kampus terbaik”
Maya : “Masa sih pak?”
Pak Damar : “yaa begitulah.. Saya dengar kamu bisa masuk desain fashion karena beasiswa ya? Sayang kalo kamu nggak melanjutkan pendidikan kamu.”
Maya : “Ada rencana sih pak, tapi saya masih bingung mau ambil beasiswa di mana?”
Pak Damar : “nggak mau coba di The London College of Fashion?”
Maya : “Planning saya sih mau coba di sana pak. Tapi saya masih ragu.”
Pak Damar : “kenapa ragu? Kalo kamu mau, saya bisa carikan kamu info tentang beasiswa di sana kok”
Maya : “Serius pak? Saya senang banget. Btw terima kasih ya pak. Tapi nggak ngerepotin kan pak?”
Pak Damar : “nggak kok, nanti kalo liburan saya sudah selesai, dan saya balik lagi ke sana saya akan hubungi kamu. Ini kartu nama saya. SMS saya kalo kamu perlu sesuatu”
Maya : “bapak kuliah di sana? Iya nanti saya akan SMS bapak deh”
Maya mengambil kartu nama dari tangan Pak Damar.
Pak Damar : “Yaaa begitulah may,, Btw, jangan panggil sama bapak ya kalo lagi di luar kuliah gini, Panggil aja Damar”
Maya menatap wajah Pak Damar. Pak Damar membalas tatapan Maya dengan senyuman.


Scene 12.  Int. Kampus Fakultas Desain Fashion-Ruang Kelas  (Pagi hari)
Cast : Maya (Mahasiswi Fashion desain dan anak bungsu), Una (Teman dekat Maya), Olivia (Teman dekat Maya), dan Pak Damar (Dosen Baru Maya)

Maya sedang kumpul bersama dengan dua orang temannya seusai kelas Sejarah Fashion. Kemudian Pak Damar memberikan selembar kertas mengenai info beasiswa di The London College of Fashion. Setelah memberikan selembar kertas tersebut, ia meninggalkan Maya, Una, dan Olivia.


Scene 13.  Ext. Kantin Kampus  (siang hari)
Cast : Maya (Mahasiswi Fashion desain dan anak bungsu), Una (Teman dekat Maya), dan Olivia (Teman dekat Maya)

Olivia : “Lo kok bisa sedeket itu sih sama doi, may?”
Maya : “siapa? Pak Damar?”
Olivia : “Iyalah. Dasar lu yah, nyolong start gue. Kan yang niat mau pedekate gue. Kenapa jadi lo yang deket sama doi sih?”
Una : “udahlah liv, lo kan juga udah punya pacar. Ikhlasin aja Pak Damar buat si Maya”
Maya : “Gue harus bisa dapetin Pak Damar”
Una dan Olivia : “ciyeeee”


Scene 14.  Int. Restoran (Malam hari)
Cast : Maya (Mahasiswi Fashion desain dan anak bungsu), Una (Teman dekat Maya), dan Olivia (Teman dekat Maya)

Maya dan Pak Damar menghabiskan waktu bersama. Pak Damar pun mengutarakan perasaannya pada Maya. Mereka pun berpacaran. 


Scene 15.  Int. Rumah Maya-Ruang Makan (Pagi hari)
Cast : Maya (Mahasiswi Fashion desain dan anak bungsu), Pak Bayu (Ayah Maya), Bu Lidya (Ibu Maya), dan Mesa (Kakak pertama Maya).
Pak Bayu : “Udah jam segini kamu baru pulang? Kamu pikir rumah bapak ini hotel yang bebas semaumu pulang jam berapa saja”
Mesa muncul.
Mesa : “Assalammualaikum”
Pak Bayu dan Bu Lidya : “Waalaikum slm”
Maya : “Ka Mesa saja boleh pulang jam segini kok Maya nggak boleh. Maya tuh selalu salah di mata bapak” sambil memalingkan wajah.
Pak Bayu : “Kakakmu itu cari duit buat kamu, buat tambah-tambah. Lah kamu itu kaburan nggak jelas saja”
Bu Lidya : “Sudah toh pa’e, ndak usah pake emosi. Kasian dia baru pulang sudah kamu omeli”
Pak Bayu : “Kamu tuh selalu belain anakmu. Tuh liat anakmu jadi manja dan nggak tau aturan seperti ini. Membantah terus lagi”
Maya : “Bapak bilang maya manja? Bapak pikir siapa yang biayain maya kuliah di kampus yang ternama di kota. Maya pak, yang bersusah payah dapetin beasiswa biar bisa kuliah di sana. Selama ini bapak sama ibu, mba Mesa dan mba Marla juga nggak bisa kasih apa yang Maya mau. Semua barang-barang mahal yang Maya punya, bapak pikir Maya bisa dapet darimana? Itu karena Maya bergaul dan macarin orang kaya. Kalo Maya andelin duit dari mba Mesa, Maya malu pak sama temen-temen kampus Maya”
Pak Bayu : “Kamu ini masih saja keras kepala. Belum saja kamu dapet batunya”
Maya : “Bapak tuh nggak pernah bisa ngertiin Maya”
Bu Lidya : “sudah May, kamu ndak udah melawan bapakmu”
Maya : “Ibu juga sama saja. Enggak ada yang nngertiin Maya” menangis sambil masuk kamar.



Scene 16.  Int. Restauran dekat kampus (siang hari)
Cast : Maya (Mahasiswi Fashion desain dan anak bungsu), dan Pak Damar (dosen Maya).

Maya dan Pak Damar duduk di sebuah meja makan. 
Pak Damar : "gimana persiapan kamu buat beasiswa itu sayang?"
Maya :  "Yaa kita liat aja nanti. Pokoknya aku harus bisa yang dapetin beasiswa itu" sambil tersenyum pada Pak Damar"



Scene 17.  Int. Restauran dekat kampus (siang hari)
Cast : Maya (Mahasiswi Fashion desain dan anak bungsu), Pak Damar (dosen Maya),  Avin (mantan pacar Maya), Randy (teman Avin), dan Bagus (teman Avin).

Avin mendatangi meja makan Maya dan Pak Damar dengan wajah yang kesal. Bagus dan Randy mengikuti Avin dengan wajah bingung.
Avin : "Jadi kamu mutusin aku gara-gara dosen baru ini May?"
Maya dan Pak Damar terkejut dengan kedatangan Avin. Mereka menoleh pada Avin.
Avin : "Kamu pacaran sama dia kan, May?"
Maya : "Itu bukan urusan lo Vin"
Avin : "Jelas urusan gue dong May. Selama pacaran sama lo, lo selalu ngabisin duit gue. Belanja ini itu lo pikir lo pake duit siapa?"
Maya : "Berisik lo Vin, ayo beb kita pergi aja dari sini. Ada orang sinting"

Maya meraih tangan Pak Damar dan berjalan ke luar pintu. Akan tetapi Avin mencegat kepergian Maya dan Pak Damar dengan menarik tangan Pak Damar.


Avin : "Hati-hati bro lo pacaran sama dia. Bisa-bisa duit lo abis sama nih cewe matre"
Pak Damar hanya menatap Avin.
Maya : "kamu nggak usah dengerin dia beb, ayoo" sambil berjalan menjauhi Avin.
Avin : "Inget bro, jangan mau jadi korban berikutnya dia" teriak Avin.
Semua tamu di dalam restoran tersebut memandangi Avin.
Rendy dan Bagus : "Udah vin, malu sama yang lain" sambil melihat sekeliling.
Avin : "Dasar cewe matre!"
Rendy dan Bagus mengajak paksa Avin keluar dari restoran tersebut.



Scene 18.  Ext. Lapangan Kampus Fakultas Desain Fashion (pagi hari)
Cast : Pak Damar (dosen Maya),  Avin (mantan pacar Maya), dan teman-teman Avin.

Pak Damar mendatangi Avin yang sedang bermain basket dengan teman-temannya. Salah seorang teman Avin melihat kedatangan Pak Damar dan memberikan kode pada Avin tentang kedatangan Pak Damar. 
Avin : "Gue break sebentar. Kalian lanjutin aja"
Avin berjalan mendekati Pak Damar.

Pak Damar : "sorry, saya minta waktu kamu sebentar. boleh?"

Avin : "Boleh aja. Tentang Maya?"
Pak : "Kemarin kamu bilang..."
Avin : "Kalo Maya matre? huh, dia emang matre Pak. Udah banyak yang jadi korban dia"
Pak Damar : "Termasuk kamu?"
Avin : "Hmm, yaa begitulah. Jadi sebelum duit bapak abis sama tuh cewe matre. Lebih baik bapak putusin dia"
Pak Damar : "Saya bingung, Maya bukannya orang punya? Kenapa dia matre ya? Apa ada masalah dengan orangtuanya?" 
Avin : "Selain matre dia ternyata juga jago bohong. Bapak tuh udah dibohongin sama Maya. Anak orang kaya dari mana? Bapaknya itu nganggur dan ibunya cuma tukang jahit".
Pak Damar tampak bingung dan mencoba memahami penjelasan Avin. Sedangkan Avin mengambil kertas dan pulpen di dalam tasnya. Avin nampak menuliskan sesuatu.
Avin : "Kalo bapak nggak percaya, bapak bisa check alamat ini" 


Scene 19.  Ext. Halaman rumah Maya (Pagi hari)
Cast : Maya (Mahasiswi  Fashion desain dan anak bungsu), Bu Lidya (Ibunya Maya), dan Pak Damar (Dosen baru Maya)

Pak Damar : "Kayanya bener ini alamatnya. Permisi!!" Teriak Pak Damar.
Bu Lidya mendengar suara Pak Damar dan segera membukakan pintu.
Bu Lidya : "Maaf cari siapa yaa pak?" tanya Bu Lidya sambil menatap Pak Damar dari ujung kepala hingga ke ujung kaki.
Pak Damar : "Maaf bu kalo saya ganggu. Apa benar ini rumahnya Maya?"
Bu Lidya : "Benar pak, sebentar saya panggilkan anaknya"
Pak Damar : "Tidak perlu bu. Sebenarnya.. Oia, Ibu siapa?"
Bu Lidya : "Nama saya Lidya, ibunya Maya"
Tiba-tiba Maya keluar dari kamarnya dan saat di depan pintu, dia sangat terkejut melihat Pak Damar sudah ada di depan rumahnya.
Maya : "Damar!" 
Bu Lidya dan Pak Damar menoleh ke arah Maya.
Bu Lidya : "Itu anaknya sudah bangun. Saya tinggal dulu. Monggo, monggo duduk dulu. Ajak temenmu masuk toh May"
Maya menatap Bu Lidya dengan tatapan melotot. Ibu Lidya pergi meninggalkan Maya dan Pak Damar. 


Scene 20.  Int. Ruang tamu Maya (Pagi hari)
Cast : Maya (Mahasiswi Fashion desain dan anak bungsu), Bu Lidya (Ibunya Maya), dan Pak Damar (Dosen baru Maya)

Ibu Lidya : "Diminum dulu pak. Maaf yo pak, cuma bisa kasih air teh manis saja" sambil tersenyum-senyum.
Maya : "Apaan sih bu?" Sambil menggerakkan kepalanya ke arah kanan sebagai tanda menyuruh ibunya masuk ke dalam.

Maya : "Kamu ngapain ke sini? Kamu mau buktiin omongan Avin kan? Sekarang kamu udah tau keadaan aku. Aku bukan anak orang kaya seperti teman-teman yang lain"
Pak Damar : "akuuu.."
Maya : "Kalo kamu mau putus, ya sudah kita putus" ucap Maya sambil menunduk.
Pak Damar : "Kamu salah May, aku kecewa sama kamu bukan karena kamu anak orang kaya atau miskin. Aku kecewa dan marah sama kebohongan yang kamu buat. Aku udah terlanjur sayang dan nyaman sama kamu May. Aku mau terima kamu apa adanya, tapi nggak untuk semua kebohongan kamu"
Maya : "Aku hanya membohongi kamu tentang keadaan orangtuaku yang miskin" mata Maya mulai berair.
Pak Damar : "Mereka tetap orangtua kamu May. Bagaimana pun keadaannya. Setidaknya mereka peduli dan sayang sama kamu. Nggak seperti keluargaku May. Orangtuaku terlalu sibuk mencari uang hingga mereka tidak pernah memberikan perhatian sama aku. Uang itu nggak bisa beli kebahagiaan May. Kasih sayang dan perhatian mereka yang lebih aku butuhkan, tapi mereka terlalu sibuk dengan kerjaan mereka."
Maya hanya bisa menunduk dan menangis. 



Scene 21.  Int. Rumah Maya-Ruang Makan (malam hari)
Cast : Maya (Mahasiswi Fashion desain dan anak bungsu), Bu Lidya (Ibu Maya), Mesa (Kakak pertama Maya), Marla (Kakak kedua Maya), Pak Bayu (Ayah Maya), dan Pak Damar.

Pak Bayu : "Bapak senang kamu sudah berubah sekarang nak"
Bu Lidya : "Iya pa'e, ini sepertinya berkat nak Damar"
Pak Damar : "Tidak kok bu. Ini karena Maya sudah semakin dewasa"
Maya : "Ayah sama ibuku bener kok beb. Kamu yang udah nyadarin aku, kalo waktu bersama mereka lebih penting dibandingkan uang sebanyak apapun. Maafin aku ya bu, pak. Aku juga mau minta maaf sama mba Mesa dan mba Marla. Sikap aku selama ini begitu kasar"
Pak Bayu : "kita semua sudah memaafkan kamu jauh sebelum kamu meminta maaf. Sudah lupakan yang lalu.  Setidaknya sekarang kamu sudah berubah, pa'e sudah bahagia"
Ka Mesa : "Kita kan keluarga, sudah seharusnya bisa saling memaafkan dan memahami"
Maya : "iya tapi aku ngerasa jahat banget sama kalian. aku..."
Ka Marla : "Kamu ini mau minta maaf berapa kali toh may. Sekali lagi kamu minta maaf, aku kasih kamu piring loh. Sudah 5 kali kamu bilang maaf sama kita".
Pak Bayu, Pak Damar, Bu Lidya, Maya, Ka Mesa dan Ka Marla tertawa bersama.




- THE END-

Saturday, April 20, 2013

Emosiku Labil


     Setelah berkuliah hingga sore, ia pun menyusuri jalan untuk menjemput bis kota yang biasa mengantarkannya pulang kuliah setiap harinya. Begitulah aktivitas perjalanannya dalam berjuang merengkuh pendidikan S1 di salah satu Perguruan Tinggi Swasta di Jakarta. Seorang gadis muda yang memiliki motivasi dan minat tinggi di bidang Psikologi itu adalah Kaina. Saat sedang berusaha memejamkan matanya, tiba-tiba handphone-nya bergetar. Ternyata ada sebuah SMS dari salah satu nomor tetangganya yang mengurusi semua keperluan administrasi rawat inap ayahnya yang tengah sakit cukup parah. Setelah membacanya, ia kembali menutup matanya. Tak lama ia membuka matanya lagi. Dia terdiam dan menatap lurus ke depan dengan tatapan mata yang kosong. 

     Bola matanya melirik pada seseorang yang membuat pikirannya kembali fokus. Kaina menatap seorang pria berusia sekitar 40 tahun-an sedang menggendong seorang balita yang menangis.
Sedangkan ibunya hanya membantu mendiamkan balita dengan godaan-godaan kecil. Namun tetap saja balita tersebut menangis. “Mungkin ibunya lupa membawa susu untuk anaknya atau mungkin karena ibunya hanya membawa susunya sedikit. Makanya susunya sudah habis” pikir kaina. 

     Kaina semakin dalam menatap kondisi balita tersebut. Tanpa disadari dia meneteskan airmata. Tangisannya semakin kencang. Tak lama kemudian dia tersenyum. Tawanya terdengar lirih. Ia tersenyum dan kembali mencoba memejamkan matanya. Sesampainya di terminal pemberhentian terakhir, ia pun turun dan menyebrang jalan. Dia menaiki angkutan umum. Tibalah ia di suatu tempat. Ia kembali berjalan menuju Rumah Sakit. Saat di lantai 3, ia langsung melihat ibunya dan banyak orang yang melainkan adalah tetangganya. Ibunya terlihat menangis dan perlahan berjalan bersama Kaina ke ruang kamar. Tampaklah ayahnya yang sedang tertidur. Ibunya bercerita tentang keadaan ayahnya yang sedang sekarat sambil menangis tersendu-sendu. Kaina memarahi ibunya agar berhenti menangis. Ibunya tersentak namun tetap menangis. Kaina berteriak-teriak memaki ibunya. Tetangga berdatangan. Mereka menghampiri Kaina dan membawanya ke suatu tempat yang tidak jauh dari ruang kamar inap ayahnya. Dia duduk di pijakan anak tangga. Dia terdiam dengan tatapan kosong. 

     Tetangganya terkejut saat melihat Kaina tersenyum dan tertawa. Datanglah seorang tetangganya yang memberitahukan bahwa ayahnya Kaina sudah meninggal. Dua orang tetangganya yang ada di sampingnya mencoba menenangkan Kaina saat dia menangis kejer. Dia berlari ke ruang kamar inap ayahnya dan mengacuhkan omongan tetangganya. Dia menatap ayahnya. Ibunya menghampiri dia. Mereka pun saling berpelukan sambil menangis.

     Ayahnya pun di makamkan di kampung halaman Ibunya. Kaina nampak selalu tersenyum saat saudara-saudara dan tetangganya mengucapkan bela sungkawa. Sedikit pun ia tidak menunjukkan wajah berduka.

BERSAMBUNG